Jangan Menyerah Menggapai Cita - Cita
“Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan. Sesungguh-nya dibalik
kesulitan itu terdapat kemu-dahan” (QS. An-Insyirah ayat 5 dan 6).
Arti
dari ayat terebut mungkin sering kita dengar dan baca sebagai ayat-ayat
motivasi dalam berbagai sesi. Bahwa segala kesulitan yang kita hadapi
sebenarnya ada kemudahan setelahnya. Setiap kesusahan akan dibarengi dengan
kemudahan.
Hidup
ini tak obahnya laksana se-buah bahtera yang tengah berlayar di samudera luas.
Bilamana cuaca baik dan laut dalam keadaan tenang, maka berlayar merupakan
sesuatu yang sangat menyenangkan. Tetapi sebaliknya, bilamana cuaca jelek,
angin bertiup kencang, badai mengamuk dan menerjang, maka berlayar merupakan
sesuatu yang sangat menakutkan.
Begitulah
gambaran hidup ini, terkadang menyenangkan terkadang pula menyedihkan. Selama
kita hidup di dunia ini, banyak sekali
persoalan-persolanan yang kita alami dan rasakan. Semakin banyak berjalan,
semakin banyak yang dilihat. Se-makin panjang usia, semakin banyak yang dirasa.
Begitulah hidup ini, ibarat sebuah roda. Selama kita masih hidup, roda itu terus
berputar. Kadang-kadang kita berada di atas, terkadang pula kita berada di bawah. Jika suatu waktu kita
berada di atas atau pada posisi yang menyenangkan, maka hendaklah kita
bersyukur kepada Allah SWT. dan janganlah sekali-kali meremehkan orang lain
yang kebetulan berada di bawah. Sebaliknya, jika suatu waktu kita berada di
bawah atau pada posisi yang tidak menyenangkan, maka hendaklah kita bersabar serta rela menerima takdir Allah SWT.
Hidup
ini laksana mengarungi lautan lepas tak bertepi. Suatu pantai yang akan kita tuju,
sebagai refleksi dari cita-cita kita, nampaknya masih jauh dan belum kelihatan.
Apakah kita dapat menggapai tujuan yang
kita cita-citakan, ataukah mungkin kandas di tengah lautan, karam diterjang
ombak dan gelombang, atau hilir mudik ke sana ke mari tak mencapai pulau harapan.
Entahlah, yang jelas kita harus punya
tujuan, kita harus punya cita-cita tercapai atau tidak. Dalam meraih suatu
cita-cita tentunya diperlukan kemauan yang keras dan usaha yang gigih untuk
mencapainya. Disamping itu diperlukan pula ketabahan, keuletan dan kesungguhan
serta kesiapan berkorban baik tenaga, pikiran, perasaan, harta, tahta, uang dan
sebagainya. Inilah prasyarat utama untuk mencapai keinginan yang dicita-citakan.
“Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka meru-bah keadaan diri
mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du ayat 11)
Marilah
kita tanamkan dalam diri kita masing-masing semangat juang dan disiplin yang
tinggi, yaitu kepatuhan yang didasari atas kesadaran diri yang mendalam untuk
melakukan tindakan dan usaha dalam meraih cita-cita, dengan suatu keyakinan
bahwa hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Itulah harapan, itulah
keinginan dan itulah cita-cita. Kalau tidak karena adanya suatu harapan dan
keinginan, maka mustahil seseorang mau berusaha untuk meraih cita-citanya.
Orang
yang berjiwa besar senantiasa bangun seketika ia terjatuh. Kejatuhan yang pertama
dijadikannya bekal dan cermin untuk melangkah selanjutnya.
Nasehat
dari Buya HAMKA,
“Janganlah
takut menghadapi suatu kegagalan, karena dengan kegagalan itu kita akan dapat
beroleh pengetahuan tentang segi-segi kelemahan atau kekuatan diri kita. Yang
ditakuti adalah, gagal dua kali pada suatu hal yang serupa”.
“Jangan
takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tak pernah jatuh. Jangan
takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah
mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama
kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah
yang ke dua”.








0 comments:
Post a Comment