Sunday, 18 February 2018

Jangan Menyerah Menggapai Cita - Cita



Jangan Menyerah Menggapai Cita - Cita
 
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan. Sesungguh-nya dibalik kesulitan itu terdapat kemu-dahan” (QS. An-Insyirah ayat 5 dan 6).
Arti dari ayat terebut mungkin sering kita dengar dan baca sebagai ayat-ayat motivasi dalam berbagai sesi. Bahwa segala kesulitan yang kita hadapi sebenarnya ada kemudahan setelahnya. Setiap kesusahan akan dibarengi dengan kemudahan.
Hidup ini tak obahnya laksana se-buah bahtera yang tengah berlayar di samudera luas. Bilamana cuaca baik dan laut dalam keadaan tenang, maka berlayar merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Tetapi sebaliknya, bilamana cuaca jelek, angin bertiup kencang, badai mengamuk dan menerjang, maka berlayar merupakan sesuatu yang sangat menakutkan.
Begitulah gambaran hidup ini, terkadang menyenangkan terkadang pula menyedihkan. Selama kita hidup di dunia  ini, banyak sekali persoalan-persolanan yang kita alami dan rasakan. Semakin banyak berjalan, semakin banyak yang dilihat. Se-makin panjang usia, semakin banyak yang dirasa. Begitulah hidup ini, ibarat sebuah roda. Selama kita masih hidup, roda itu terus berputar. Kadang-kadang kita berada di atas, terkadang pula  kita berada di bawah. Jika suatu waktu kita berada di atas atau pada posisi yang menyenangkan, maka hendaklah kita bersyukur kepada Allah SWT. dan janganlah sekali-kali meremehkan orang lain yang kebetulan berada di bawah. Sebaliknya, jika suatu waktu kita berada di bawah atau pada posisi yang tidak menyenangkan, maka hendaklah kita  bersabar serta rela menerima takdir Allah SWT.
Hidup ini laksana mengarungi lautan lepas tak bertepi. Suatu pantai yang akan kita tuju, sebagai refleksi dari cita-cita kita, nampaknya masih jauh dan belum kelihatan. Apakah  kita dapat menggapai tujuan yang kita cita-citakan, ataukah mungkin kandas di tengah lautan, karam diterjang ombak dan gelombang, atau hilir mudik ke sana ke mari tak mencapai pulau harapan. Entahlah, yang jelas kita harus  punya tujuan, kita harus punya cita-cita tercapai atau tidak. Dalam meraih suatu cita-cita tentunya diperlukan kemauan yang keras dan usaha yang gigih untuk mencapainya. Disamping itu diperlukan pula ketabahan, keuletan dan kesungguhan serta kesiapan berkorban baik tenaga, pikiran, perasaan, harta, tahta, uang dan sebagainya. Inilah prasyarat utama untuk mencapai keinginan yang dicita-citakan.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka meru-bah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du ayat 11)
Marilah kita tanamkan dalam diri kita masing-masing semangat juang dan disiplin yang tinggi, yaitu kepatuhan yang didasari atas kesadaran diri yang mendalam untuk melakukan tindakan dan usaha dalam meraih cita-cita, dengan suatu keyakinan bahwa hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Itulah harapan, itulah keinginan dan itulah cita-cita. Kalau tidak karena adanya suatu harapan dan keinginan, maka mustahil seseorang mau berusaha untuk meraih cita-citanya.
Orang yang berjiwa besar senantiasa bangun seketika ia terjatuh. Kejatuhan yang pertama dijadikannya bekal dan cermin untuk melangkah selanjutnya.
Nasehat  dari Buya HAMKA,
“Janganlah takut menghadapi suatu kegagalan, karena dengan kegagalan itu kita akan dapat beroleh pengetahuan tentang segi-segi kelemahan atau kekuatan diri kita. Yang ditakuti adalah, gagal  dua  kali pada suatu hal yang serupa”.
“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang ke dua”.


0 comments:

Post a Comment