Thursday, 15 March 2018

BAHAYA GODAAN HARTA


BAHAYA GODAAN HARTA


-Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.- (Al-Anfal: 28)

Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: -Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.- (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
-Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.- (An-Nisa’: 29).

Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas’alullahaas-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).

Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia.

-Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.- (Al-Isra’: 26-27)
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid’ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’a serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala


TUNAIKANLAH AMANAH


TUNAIKANLAH AMANAH

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang Muk-min laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 72-73).
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan kita. Khususnya di zaman ini yang banyak cobaan dan ujian yang menimpa kaum Muslimin umumnya dan Negara kita khususnya. Di antara bentuk ketakwaan tersebut adalah menunaikan amanat yang telah dibebankan kepada kita semua. Amanah ini sebenarnya telah ditawarkan kepada alam semesta, langit, bumi dan gunung. Namun mereka semua takut memang-gulnya dan enggan menerimanya karena takut dengan azab Allah. Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada Adam dan beliau menerimanya.

Ibnu Abbas berkata dalam menjelaskan pengertian amanah dalam ayat ini: Amanah adalah kewajiban-kewajiban, Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, apabila mereka menunaikannya, maka mereka mendapatkan pahala dan bila menyia-nyiakannya, maka mereka diberi siksaan, lalu mereka menolaknya, bukan karena tidak taat kepada Allah namun karena mengagungkan agama Allah. Siapa yang memiliki kesempurnaan sifat amanah, maka ia telah menyempurnakan agamanya, dan siapa yang tidak memilikinya, maka ia telah membuang agamanya.

"Sesungguhnya amanah telah turun ke tengah hati-hati orang-orang, kemudian turunlah al-Qur`an, sehingga mereka mengetahui al-Qur`an dan Sunnah. Kemudian Nabi a menceritakan tentang hilangnya sikap amanah: seseorang tidur sebentar lalu amanah dicabut dari hatinya sehingga tersisa bekasnya seperti bercak kecil, kemudian tidur kembali lalu dicabut amanah dari hatinya sehingga tersisa seperti lepuhan luka, seperti bara api yang kamu tempelkan ke kakimu, lalu kaki tersebut terluka bakar dan kamu lihat ia melepuh dan tidak ada apa-apanya. Kemudian beliau mengambil kerikil dan ditempelkan ke kaki beliau. Lalu orang-orang berbai'at namun hampir tak seorang pun menunaikan amanah hingga diberitakan bahwa pada bani Fulan terdapat seorang yang amanah, hingga dikatakan kepada orang itu, 'Alangkah sabarnya, alangkah hebatnya dan alangkah berakalnya!' Padahal di hatinya tidak ada sebiji sawi pun dari iman."
Dari sini, jelaslah bahwa tauhid dan memberantas kesyirikan adalah amanah, amar makruf nahi mungkar adalah amanah, harta adalah amanah yang tidak boleh dipakai untuk kemaksiatan, mata kita adalah amanah yang harus dijaga dari memandang yang haram, dan seluruh anggota tubuh kita adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara dari keburukan dan kemaksiatan. Demikian juga keluarga dan anak-anak, mereka merupakan amanah yang harus ditunaikan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islam, dan jangan dibiarkan hancur oleh globalisasi yang menerpanya.

"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al-Mu`minun: 8-11).
"Berilah jaminan kepadaku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga; apabila salah seorang kalian berbicara maka jangan berdusta, apabila berjanji jangan mengingkari, apabila diberi amanat jangan berkhianat, dan tundukkanlah pandangan kalian, peliharalah kemaluan kalian serta jagalah tangan-tangan kalian." (HR. Ahmad).
Perlu diingat oleh kita semua, bahwa menyia-nyiakan dan tidak menunaikan amanah, memiliki implikasi buruk pada keadaan seseorang dan dapat menjadi sebab kerusakan masyarakat. Oleh karena itu, bertakwalah wahai kaum Muslimin, peliharalah amanat dan tunaikanlah hak-hak dan kewajiban seorang hamba serta jauhilah semua larangan Allah.

Siapa yang menunaikan kewajiban yang Allah bebankan pada tugas dan jabatan tersebut dan merealisasikan kemaslahatan kaum Muslimin, maka ia telah menunaikan amanah dan berbuat kebaikan untuk akhiratnya, dan yang tidak menunaikannya dengan baik atau mengambil suap dan korupsi menggunakan jabatan dan kedudukannya tersebut, maka ia telah mengkhianati amanah dan mendapatkan bencana dan siksaan Allah serta di akhirat nanti, ia akan dipermalukan. Demikian juga amanat yang dititipkan orang kepada kita, kita wajib menunaikannya sebagaimana mestinya dan jangan berkhianat walaupun orang lain mengkhianati.

"Tunaikan amanah kepada orang yang memberimu amanah dan janganlah mengkhianati orang yang berkhianat kepada kamu." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA


TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA



“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada"Ku.” (Adz"Dzariyat: 56).
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kita diciptakan untuk suatu tujuan yang besar dan sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memuliakan hamba-hambanya, yang mewujudkan tujuan penciptaan dirinya, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan hal itu sedikitpun dari hamba-hambanya. Akan tetapi ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Ketahuilah, bahwa kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan semata untuk hidup di dunia, bukan pula untuk sekedar makan dan minum. Apalagi berfoya"foya untuk memenuhi setiap keinginan hawa nafsu kita.

Asy"Syaikh Abdurrahman As"Sa’di dalam Tafsir"nya menyebutkan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala (di dalam ayat ini) berkata: ‘Memujilah kalian kepada Rabb kalian atas diutusnya Nabi yang ummi ini, yang berasal dari kalangan Arab, yang memberi kabar gembira dan peringatan serta menjadi saksi atas amalan yang dilakukan oleh umat ini. Bersyukurlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syukurilah nikmat yang besar ini dengan menaati utusan"Nya, dan janganlah sekali"kali kalian mengkufuri nikmat ini dengan tidak mau menaati Rasul yang diutus kepada kalian sehingga kalian seperti Fir’aun. Ketika Musa bin ‘Imran diutus kepada Fir’aun dan mengajaknya kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada"Nya, dia tidak mau beriman kepada Musa, bahkan bermaksiat kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih. Oleh karena itu, barangsiapa ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat, selamat dari siksa"Nya dan mendapatkan surga"Nya, tidak lain caranya dengan beribadah hanya kepada"Nya dan mengikuti petunjuk Rasul"Nya.

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul"Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai"sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul"Nya serta melanggar ketentuan"ketentuan"Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An"Nisa`: 13-14)
Dengan demikian jelaslah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah dengan menaati Allah dan Rasul"Nya. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kecelakan serta kebinasaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah karena bermaksiat terhadap Allah dan Rasul"Nya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk meraih janji Allah, untuk mendapatkan berbagai kenikmatan di surga"Nya dan dijauhkan dari siksa neraka, yaitu dengan mengisi kesempatan hidup di dunia ini dengan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti petunjuk Rasul" Nya.

Kehidupan di dunia ini adalah suatu perjalanan yang menghantarkan pada kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat pembalasan. Maka janganlah kehidupan dunia ini melupakan kita dari kehidupan akhirat. Gunakan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada kita di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat nanti. Karena sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang di langit maupun yang di bumi, semua itu telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tundukkan untuk manusia sebagai sarana untuk beribadah kepada"Nya. Janganlah kita menjadi orang yang menyesal di akhirat nanti.


Monday, 5 March 2018

SEGERALAH BERTAUBAT


SEGERALAH BERTAUBAT



“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sunga” 
(QS:At-Tahriim | Ayat: 8)

Akhir-akhir ini, banyak orang yang jauh dari agama Allah, maksiat merata dan kerusakan melanda sehingga hampir tidak ada satu pun manusia kecuali telah dilumuri oleh berbagai noda dosa dan maksiat, selain orang yang Allah jaga. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci, sehingga banyak orang yang sadar dari kelalaiannya dan bangun dari tidurnya. Mereka menyadari sikapnya selama ini yang jauh dari jalan yang lurus; jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, jalan para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Merekapun pergi menuju menara taubat, sedangkan yang lain sudah mulai bosan dengan hidupnya dan berangkatlah mereka bersama-sama untuk keluar dari kegelapan kepada cahaya.
Taubat adalah kembali kepada ketaatan setelah sebelum berbuat maksiat. Dan taubat memiliki 3 syarat. Salah satu dari tiga hal ini terluput, maka taubat seseorang tidak diterima.

Pertama: Berhenti dari dosa yang ditaubati. Tandanya adalah dengan sesegera mungkin melepaskan diri dari perbuatan tersebut.
Kedua: Menyesal karena telah melakukannya. Tanya dengan merasa bersedih atas apa yang telah dilakukan
Ketiga: bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Tandanya adalah dengan merenungi apa yang telah ia lakukan, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya di masa mendatang

Jika perbuatan dosa itu berkaitan dengan hak seorang anak Adam. Maka ada syarat yang keempat. Yaitu mengembalikan hak orang yang dizalimi atau memintanya untuk memaafkannya. Jika di masa sebelumnya Anda menyia-nyiakan penunaian ibadah. Atau suatu perbuatan dosa yang membuatmu bersedih apabila mengingatnya. Maka bertaubatlah kepada Allah. Jangan tunda-tunda lagi taubat Anda. Ketahuilah, taubat itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, walaupun itu dosa besar. Dan Allah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. Bersegeralah bertaubat kepada Allah sebelum pintu taubat itu tertutup. Dan Allah juga tidak menerima taubat seseorang yang nyawanya sudah sampai tenggorokan.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 18).

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa bertaubat kepada-Nya, karena kita disadari atau tidak kita senantiasa berbuat dosa. Dan semoga Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.



Thursday, 1 March 2018

Manajemen Pelayanan Publik - HAYAT

Manajemen Pelayanan Publik - HAYAT






DESKRIPSI PRODUK
Hanya ada dua tugas pemerintah: membangun kebijakan publik unggul dan memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Berbagai paradigma tentang birokrasi sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan pelayanan publik adalah aspek negatif sebagai warisan yang telah menggurita puluhan tahun. Mindset yang melekat dalam diri masyarakat yang ditujukan kepada aparat birokrasi adalah suatu kendala terbesar bagi pemerintah dalam mengubah pola pikir itu. Oleh karena itu fokus perubahan itu dilakukan melalui reformasi birokrasi yang kemudian akan mengubah sistem dan kompetensi aparatur serta peningkatan sarana prasarana sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat untuk mencapai tujuan pemerintahan yang lebih baik.
Pelayanan menjadi bagian tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan. Pelayanan merupakan bentuk konkret pemerintah dalam melayani masyarakatnya. Pelayanan yang baik, harus didukung oleh tingkat partisipasi yang baik pula.
Buku membahas tentang manajemen pelayanan publik. Materi meliputi konsep, fungsi dan tujuan pelayanan publik, kinerja pelayanan publik, profesionalitas danproporsiaonalitas aparatur sipil negara, pengambangan ASN dalam pelayanan publik, good governance dan pelayanan publik, reformasi birokrasi dan pelayanan publik hingga kebijakan publik dan pelayanan publik.

Detail Buku
Ø  Penulis: HAYAT
Ø  ISBN: 9786024250805
Ø  Halaman: 244
Ø  Ukuran: 13.5 x 20.5 cm
Ø  Tahun Terbit: 2017


Harga dan Beli: Cek disini

Pengantar Manajemen - Edisi Pertama - ErnieTisnawati Sule & Kurniawan Saefullah


Pengantar Manajemen - Edisi Pertama - ErnieTisnawati Sule & Kurniawan Saefullah





DESKRIPSI PRODUK
Buku Pengantar Manajemen ini disusun untuk memberikan teks pengantar yang secara lengkap menguraikan beberapa topik penting dalam mempelajari ilmu manajemen, baik untuk kepentingan teoretis maupun praktis. Langkah demi langkah dalam mempelajari ilmu manajemen diuraikan dari satu bab ke bab lainnya. Keterkaitan antara satu pembahasan dan bahasan lainnya dijelaskan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami tanpa kehilangan esensi ilmiahnya.
Sebagai buku teks pengantar, buku ini memberikan panduan komprehensif bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu manajemen untuk kepentingan pendidikan di perguruan tinggi bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana manajemen dapat dijalankan dalam berbagai bentuk organisasi, bisnis maupun profesi, serta bagi mereka yang sekadar ingin mempelajari ilmu manajemen untuk kepentingan pengetahuan.
Buku ini cocok untuk praktisi, akademisi, maupun mahasiswa yang bermaksud untuk mempelajari mata kuliah Pengantar Manajemen, Manajemen Bisnis, maupun Manajemen Organisasi secara umum. Buku ini juga mengantarkan pembaca untuk mendapatkan topik-topik yang diperlukan untuk mempelajari ilmu manajemen lebih lanjut.

Detail Buku
Halaman : 450
Cetakan : IX, 2016
Ukuran : 18,5X23 cm
ISBN : 979-3465-75-1
Divisi : Kencana
Jenis Buku : Baru


Harga dan Beli: Cek disini

Pemasaran Pariwisata - I Gusti Bagus Rai Utama


 

DESKRIPSI PRODUK
Buku ini menyajikan perbedaan yang mendasar antara pemasaran produk pada umumnya dengan produk pariwisata khususnya di Indonesia yang saat ini sedang menggalakkan sektor kreatif ini sebagai sektor andalan pembangunan. Diharapkan buku ini dapat memberikan warna yang berbeda pada kelompok buku pemasaran dan sekaligus menjadi buku yang berguna bagi semua kalangan seperti mahasiswa pariwisata, para pengelola bisnis pariwisata, dan masyarakat umum lainnya.
DETAIL BUKU :
Ø Kategori(Sub) : Buku Sekolah (Bantu Belajar)
Ø ISBN: 978-979-29-6270-3
Ø Penulis: I Gusti Bagus Rai Utama
Ø Ukuran⁄Halaman: 19x23 cm² ⁄ xiv+346 halaman
Ø Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
Ø Tahun Terbit: 2017


Harga dan Beli: Cek disini