Thursday, 15 March 2018

BAHAYA GODAAN HARTA


BAHAYA GODAAN HARTA


-Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.- (Al-Anfal: 28)

Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: -Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.- (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
-Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.- (An-Nisa’: 29).

Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas’alullahaas-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).

Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia.

-Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.- (Al-Isra’: 26-27)
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid’ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’a serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala


TUNAIKANLAH AMANAH


TUNAIKANLAH AMANAH

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang Muk-min laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 72-73).
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan kita. Khususnya di zaman ini yang banyak cobaan dan ujian yang menimpa kaum Muslimin umumnya dan Negara kita khususnya. Di antara bentuk ketakwaan tersebut adalah menunaikan amanat yang telah dibebankan kepada kita semua. Amanah ini sebenarnya telah ditawarkan kepada alam semesta, langit, bumi dan gunung. Namun mereka semua takut memang-gulnya dan enggan menerimanya karena takut dengan azab Allah. Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada Adam dan beliau menerimanya.

Ibnu Abbas berkata dalam menjelaskan pengertian amanah dalam ayat ini: Amanah adalah kewajiban-kewajiban, Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, apabila mereka menunaikannya, maka mereka mendapatkan pahala dan bila menyia-nyiakannya, maka mereka diberi siksaan, lalu mereka menolaknya, bukan karena tidak taat kepada Allah namun karena mengagungkan agama Allah. Siapa yang memiliki kesempurnaan sifat amanah, maka ia telah menyempurnakan agamanya, dan siapa yang tidak memilikinya, maka ia telah membuang agamanya.

"Sesungguhnya amanah telah turun ke tengah hati-hati orang-orang, kemudian turunlah al-Qur`an, sehingga mereka mengetahui al-Qur`an dan Sunnah. Kemudian Nabi a menceritakan tentang hilangnya sikap amanah: seseorang tidur sebentar lalu amanah dicabut dari hatinya sehingga tersisa bekasnya seperti bercak kecil, kemudian tidur kembali lalu dicabut amanah dari hatinya sehingga tersisa seperti lepuhan luka, seperti bara api yang kamu tempelkan ke kakimu, lalu kaki tersebut terluka bakar dan kamu lihat ia melepuh dan tidak ada apa-apanya. Kemudian beliau mengambil kerikil dan ditempelkan ke kaki beliau. Lalu orang-orang berbai'at namun hampir tak seorang pun menunaikan amanah hingga diberitakan bahwa pada bani Fulan terdapat seorang yang amanah, hingga dikatakan kepada orang itu, 'Alangkah sabarnya, alangkah hebatnya dan alangkah berakalnya!' Padahal di hatinya tidak ada sebiji sawi pun dari iman."
Dari sini, jelaslah bahwa tauhid dan memberantas kesyirikan adalah amanah, amar makruf nahi mungkar adalah amanah, harta adalah amanah yang tidak boleh dipakai untuk kemaksiatan, mata kita adalah amanah yang harus dijaga dari memandang yang haram, dan seluruh anggota tubuh kita adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara dari keburukan dan kemaksiatan. Demikian juga keluarga dan anak-anak, mereka merupakan amanah yang harus ditunaikan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islam, dan jangan dibiarkan hancur oleh globalisasi yang menerpanya.

"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al-Mu`minun: 8-11).
"Berilah jaminan kepadaku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga; apabila salah seorang kalian berbicara maka jangan berdusta, apabila berjanji jangan mengingkari, apabila diberi amanat jangan berkhianat, dan tundukkanlah pandangan kalian, peliharalah kemaluan kalian serta jagalah tangan-tangan kalian." (HR. Ahmad).
Perlu diingat oleh kita semua, bahwa menyia-nyiakan dan tidak menunaikan amanah, memiliki implikasi buruk pada keadaan seseorang dan dapat menjadi sebab kerusakan masyarakat. Oleh karena itu, bertakwalah wahai kaum Muslimin, peliharalah amanat dan tunaikanlah hak-hak dan kewajiban seorang hamba serta jauhilah semua larangan Allah.

Siapa yang menunaikan kewajiban yang Allah bebankan pada tugas dan jabatan tersebut dan merealisasikan kemaslahatan kaum Muslimin, maka ia telah menunaikan amanah dan berbuat kebaikan untuk akhiratnya, dan yang tidak menunaikannya dengan baik atau mengambil suap dan korupsi menggunakan jabatan dan kedudukannya tersebut, maka ia telah mengkhianati amanah dan mendapatkan bencana dan siksaan Allah serta di akhirat nanti, ia akan dipermalukan. Demikian juga amanat yang dititipkan orang kepada kita, kita wajib menunaikannya sebagaimana mestinya dan jangan berkhianat walaupun orang lain mengkhianati.

"Tunaikan amanah kepada orang yang memberimu amanah dan janganlah mengkhianati orang yang berkhianat kepada kamu." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA


TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA



“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada"Ku.” (Adz"Dzariyat: 56).
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kita diciptakan untuk suatu tujuan yang besar dan sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memuliakan hamba-hambanya, yang mewujudkan tujuan penciptaan dirinya, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan hal itu sedikitpun dari hamba-hambanya. Akan tetapi ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Ketahuilah, bahwa kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan semata untuk hidup di dunia, bukan pula untuk sekedar makan dan minum. Apalagi berfoya"foya untuk memenuhi setiap keinginan hawa nafsu kita.

Asy"Syaikh Abdurrahman As"Sa’di dalam Tafsir"nya menyebutkan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala (di dalam ayat ini) berkata: ‘Memujilah kalian kepada Rabb kalian atas diutusnya Nabi yang ummi ini, yang berasal dari kalangan Arab, yang memberi kabar gembira dan peringatan serta menjadi saksi atas amalan yang dilakukan oleh umat ini. Bersyukurlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syukurilah nikmat yang besar ini dengan menaati utusan"Nya, dan janganlah sekali"kali kalian mengkufuri nikmat ini dengan tidak mau menaati Rasul yang diutus kepada kalian sehingga kalian seperti Fir’aun. Ketika Musa bin ‘Imran diutus kepada Fir’aun dan mengajaknya kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada"Nya, dia tidak mau beriman kepada Musa, bahkan bermaksiat kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih. Oleh karena itu, barangsiapa ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat, selamat dari siksa"Nya dan mendapatkan surga"Nya, tidak lain caranya dengan beribadah hanya kepada"Nya dan mengikuti petunjuk Rasul"Nya.

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul"Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai"sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul"Nya serta melanggar ketentuan"ketentuan"Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An"Nisa`: 13-14)
Dengan demikian jelaslah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah dengan menaati Allah dan Rasul"Nya. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kecelakan serta kebinasaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah karena bermaksiat terhadap Allah dan Rasul"Nya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk meraih janji Allah, untuk mendapatkan berbagai kenikmatan di surga"Nya dan dijauhkan dari siksa neraka, yaitu dengan mengisi kesempatan hidup di dunia ini dengan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti petunjuk Rasul" Nya.

Kehidupan di dunia ini adalah suatu perjalanan yang menghantarkan pada kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat pembalasan. Maka janganlah kehidupan dunia ini melupakan kita dari kehidupan akhirat. Gunakan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada kita di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat nanti. Karena sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang di langit maupun yang di bumi, semua itu telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tundukkan untuk manusia sebagai sarana untuk beribadah kepada"Nya. Janganlah kita menjadi orang yang menyesal di akhirat nanti.


Monday, 5 March 2018

SEGERALAH BERTAUBAT


SEGERALAH BERTAUBAT



“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sunga” 
(QS:At-Tahriim | Ayat: 8)

Akhir-akhir ini, banyak orang yang jauh dari agama Allah, maksiat merata dan kerusakan melanda sehingga hampir tidak ada satu pun manusia kecuali telah dilumuri oleh berbagai noda dosa dan maksiat, selain orang yang Allah jaga. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci, sehingga banyak orang yang sadar dari kelalaiannya dan bangun dari tidurnya. Mereka menyadari sikapnya selama ini yang jauh dari jalan yang lurus; jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, jalan para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Merekapun pergi menuju menara taubat, sedangkan yang lain sudah mulai bosan dengan hidupnya dan berangkatlah mereka bersama-sama untuk keluar dari kegelapan kepada cahaya.
Taubat adalah kembali kepada ketaatan setelah sebelum berbuat maksiat. Dan taubat memiliki 3 syarat. Salah satu dari tiga hal ini terluput, maka taubat seseorang tidak diterima.

Pertama: Berhenti dari dosa yang ditaubati. Tandanya adalah dengan sesegera mungkin melepaskan diri dari perbuatan tersebut.
Kedua: Menyesal karena telah melakukannya. Tanya dengan merasa bersedih atas apa yang telah dilakukan
Ketiga: bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Tandanya adalah dengan merenungi apa yang telah ia lakukan, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya di masa mendatang

Jika perbuatan dosa itu berkaitan dengan hak seorang anak Adam. Maka ada syarat yang keempat. Yaitu mengembalikan hak orang yang dizalimi atau memintanya untuk memaafkannya. Jika di masa sebelumnya Anda menyia-nyiakan penunaian ibadah. Atau suatu perbuatan dosa yang membuatmu bersedih apabila mengingatnya. Maka bertaubatlah kepada Allah. Jangan tunda-tunda lagi taubat Anda. Ketahuilah, taubat itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, walaupun itu dosa besar. Dan Allah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. Bersegeralah bertaubat kepada Allah sebelum pintu taubat itu tertutup. Dan Allah juga tidak menerima taubat seseorang yang nyawanya sudah sampai tenggorokan.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 18).

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa bertaubat kepada-Nya, karena kita disadari atau tidak kita senantiasa berbuat dosa. Dan semoga Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.



Thursday, 1 March 2018

Manajemen Pelayanan Publik - HAYAT

Manajemen Pelayanan Publik - HAYAT






DESKRIPSI PRODUK
Hanya ada dua tugas pemerintah: membangun kebijakan publik unggul dan memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Berbagai paradigma tentang birokrasi sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan pelayanan publik adalah aspek negatif sebagai warisan yang telah menggurita puluhan tahun. Mindset yang melekat dalam diri masyarakat yang ditujukan kepada aparat birokrasi adalah suatu kendala terbesar bagi pemerintah dalam mengubah pola pikir itu. Oleh karena itu fokus perubahan itu dilakukan melalui reformasi birokrasi yang kemudian akan mengubah sistem dan kompetensi aparatur serta peningkatan sarana prasarana sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat untuk mencapai tujuan pemerintahan yang lebih baik.
Pelayanan menjadi bagian tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan. Pelayanan merupakan bentuk konkret pemerintah dalam melayani masyarakatnya. Pelayanan yang baik, harus didukung oleh tingkat partisipasi yang baik pula.
Buku membahas tentang manajemen pelayanan publik. Materi meliputi konsep, fungsi dan tujuan pelayanan publik, kinerja pelayanan publik, profesionalitas danproporsiaonalitas aparatur sipil negara, pengambangan ASN dalam pelayanan publik, good governance dan pelayanan publik, reformasi birokrasi dan pelayanan publik hingga kebijakan publik dan pelayanan publik.

Detail Buku
Ø  Penulis: HAYAT
Ø  ISBN: 9786024250805
Ø  Halaman: 244
Ø  Ukuran: 13.5 x 20.5 cm
Ø  Tahun Terbit: 2017


Harga dan Beli: Cek disini

Pengantar Manajemen - Edisi Pertama - ErnieTisnawati Sule & Kurniawan Saefullah


Pengantar Manajemen - Edisi Pertama - ErnieTisnawati Sule & Kurniawan Saefullah





DESKRIPSI PRODUK
Buku Pengantar Manajemen ini disusun untuk memberikan teks pengantar yang secara lengkap menguraikan beberapa topik penting dalam mempelajari ilmu manajemen, baik untuk kepentingan teoretis maupun praktis. Langkah demi langkah dalam mempelajari ilmu manajemen diuraikan dari satu bab ke bab lainnya. Keterkaitan antara satu pembahasan dan bahasan lainnya dijelaskan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami tanpa kehilangan esensi ilmiahnya.
Sebagai buku teks pengantar, buku ini memberikan panduan komprehensif bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu manajemen untuk kepentingan pendidikan di perguruan tinggi bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana manajemen dapat dijalankan dalam berbagai bentuk organisasi, bisnis maupun profesi, serta bagi mereka yang sekadar ingin mempelajari ilmu manajemen untuk kepentingan pengetahuan.
Buku ini cocok untuk praktisi, akademisi, maupun mahasiswa yang bermaksud untuk mempelajari mata kuliah Pengantar Manajemen, Manajemen Bisnis, maupun Manajemen Organisasi secara umum. Buku ini juga mengantarkan pembaca untuk mendapatkan topik-topik yang diperlukan untuk mempelajari ilmu manajemen lebih lanjut.

Detail Buku
Halaman : 450
Cetakan : IX, 2016
Ukuran : 18,5X23 cm
ISBN : 979-3465-75-1
Divisi : Kencana
Jenis Buku : Baru


Harga dan Beli: Cek disini

Pemasaran Pariwisata - I Gusti Bagus Rai Utama


 

DESKRIPSI PRODUK
Buku ini menyajikan perbedaan yang mendasar antara pemasaran produk pada umumnya dengan produk pariwisata khususnya di Indonesia yang saat ini sedang menggalakkan sektor kreatif ini sebagai sektor andalan pembangunan. Diharapkan buku ini dapat memberikan warna yang berbeda pada kelompok buku pemasaran dan sekaligus menjadi buku yang berguna bagi semua kalangan seperti mahasiswa pariwisata, para pengelola bisnis pariwisata, dan masyarakat umum lainnya.
DETAIL BUKU :
Ø Kategori(Sub) : Buku Sekolah (Bantu Belajar)
Ø ISBN: 978-979-29-6270-3
Ø Penulis: I Gusti Bagus Rai Utama
Ø Ukuran⁄Halaman: 19x23 cm² ⁄ xiv+346 halaman
Ø Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
Ø Tahun Terbit: 2017


Harga dan Beli: Cek disini

Kamus Pintar Biologi SMP-SMA, Dilengkapi Nama-nma Penemu Bidang Biologi - Maria Elisabeth Ek, S.Si

Kamus Pintar Biologi SMP-SMA, Dilengkapi Nama-nma Penemu Bidang Biologi - Maria Elisabeth Ek, S.Si


Deskripsi Produk
Mempelajari Biologi tak lagi sulit saat kamu membuka dan mempelajari isi buku kamus Biologi SMP /SMA ini. Buku ini memaparkan dengan mudah dan disusun lengkap beserta penjelasannya.
Buku " Kamus Biologi SMP/SMA" ini memuat banyak istilah - istilah sains mulai dari A sampai Z kita dapat mulai menjelajah dan menemukan satu demi satu tentang persamaan kosakata apa yang ingin kamu ketahui.
Kamus biologi SMP/SMA membantu para siswa agar dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian IPA (Biologi) dengan lancar untuk meraih nilai tinggi dalam mata pelajaran tersebut.

Buku " Kamus Biologi SMP/SMA" ini dibuat dengan maksud agar dapat membantu siswa belajar, baik di sekolah maupun dirumah, agar mendapat pemahaman lebih mendalam tentang arti dan maksud dari istilah-istilah yang ditemukan selain itu buku ini juga mengajak kita untuk lebih mengenal nama-nama penemu terkenal di dunia yang telah berjasa dalam mengembangkan ilmu dan dunia sains.
Nah, tunggu apalagi? Siapkan dirimu dengan baik dengan memiliki Kamus ini ...

DETAIL BUKU :
  • Kategori(Sub) : Buku Sekolah (Bantu Belajar)
  • ISBN: 978-979-29-6048-8
  • Penulis: Maria Elisabeth Ek, S.Si
  • Ukuran⁄Halaman: 13x19 cm² ⁄ x+230 halaman
  • Edisi⁄Cetakan : I, 1st Published
  • Tahun Terbit: 2017 
Harga dan Beli: Cek disini

Pendidikan Kewarganegaraan, Pengantar Teori - Wahyu Widodo





Deskripsi Produk
Secara mendalam buku ini berisi materi identitas Nasional; Pengertian, Unsur, dan Faktor Penting bagi pembentukan Bangsa Indonesia; Pengertian dan Teori Terbentuknya Negara; Initegrasi Nasional: Warga Negara dan Kewarganegaraan; Kedudukan Warga Negara di Indonesia; Kewajiban dan Hak Warga Negara Indonesia; Pewarganegaraan (Naturalisasi); Konstitusionalisme; Demokrasi dan Pendidikan Demokrasi;Negara Hukum;sejarah Perkembangan Hak Azasi Manusia;Hak Azasi Manusia;Wawasan Nusantara;Otonomi Daerah;Ketahanan Nasional;Pembelaan Negara;dan Perdamaian Dunia.
DETAIL BUKU :
  • Kategori(Sub) : Buku Sekolah (Bantu Belajar)
  • ISBN: 978-979-29-5440-1
  • Penulis: Wahyu Widodo
  • Ukuran⁄Halaman: 16x23 cm² ⁄ xii+260 halaman
  • Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
  • Tahun Terbit: 2017
Harga dan Beli: Cek disini

Sunday, 25 February 2018

MENJAGA KEBERSIHAN HATI UNTUK SETIAP UMAT MUSLIM



MENJAGA KEBERSIHAN HATI UNTUK SETIAP

UMAT MUSLIM

“Ketahuilah, di dalam jasad manusia ada suatu mudghah (segumpal daging). Apabila kondisinya baik, maka akan baik pula jasad. Namun jika kondisinya jelek, maka akan jelek pula jasad. Ketahuilah, mudghah itu adalah hati”
(HR. Muslim).
Seseorang yang memiliki hati yang sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benarbenar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih. Orang yang paling beruntung adalah orang yang memiliki hati yang sehat, karena dengan hati yang sehat, ia akan dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, ia akan semakin mengenal Allah Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud di hadapan Allah SWT. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin  rendah hati.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT. tidak saja berupa jasmani atau pisik, tetapi juga berupa rohani atau jiwa. Bahkan kedudukan rohani atau jiwa ini, menempati proporsi utama atau memiliki nilai plus dibanding kedudukan jasmani atau pisik. Kenapa demikian? Karena biasanya yang menentukan gerak aktivitas manusia seharihari justeru ditentukan oleh dorongan dari dalam, yang dalam hal ini adalah rohani atau jiwa. Inilah sebenarnya faktor yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Segala usaha, aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan seseorang, merupakan implikasi dari dorongan jiwanya yang dipertimbangkan oleh akal pikiran. Berbeda dengan binatang. Semua gerakgerik aktivitas kehidupan binatang, pada dasarnya digerakkan kekuatan insting semata, tidak disertai oleh suatu pertimbangan akal pikiran atau perasaan.
Rohani atau jiwa, adalah komponen kehidupan manusia yang sangat vital, dan ia merupakan anugerah Allah yang amat berharga, dan oleh karenanya kita dituntut agar mampu memeliharanya dari berbagai macam kotoran rohani, sehingga rohani kita tetap bersih dan suci, serta kita mampu menjaga dan memelihara jiwa kita dari berbagai serangan penyakit jiwa, sehingga jiwa kita tetap sehat dan kuat. Apabila rohani atau jiwa kita bersih dan sehat, ia akan mengarahkan prilaku lahiriyah kita, keperbuatan yang baik dan terpuji. Sebaliknya, apabila rohani atau jiwa kita kotor dan sakit, maka kotorannya akan membekas dan melekat pada setiap prilaku tindakan kita, sehingga cenderung berbuat kemungkaran dan malapetaka.

Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaan atas orangorang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan syetan itu hanyalah atas orangorang yang mengangkatnya sebagai pemimpin dan orang yang suka menyekutukannya dengan Allah” (QS. AnNahl 99100)
Didalam menempuh perjalanan hidup dan kehidupan ini, kita memang tak pernah sunyi dari berbagai rintangan, halangan dan tantangan. Terkadang jiwa kita tegar menghadapinya, namun terkadang pula jiwa kita tidak mampu membendung kuatnya arus kemaksiatan dan kedzaliman, sehingga jiwa kita terpengaruh oleh petualangan realitas hidup duniawi yang cenderung menjerumuskan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Syetan untuk menyebarkan virusvirus kejahatannya. Oleh karena itu, agar jiwa kita tetap bersih, sehat dan kuat, maka kita harus memeliharanya dengan baik.
Ketahuilah, orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak dan badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati.

“Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya” (QS. AlBaqarah ayat 286)
Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang Allah. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat jiwa dan raga untuk menjaga kebersihan hati, karena kebersihan hati adalah kunci kesehatan jiwa.
semoga kita mampu menjaga dan memelihara kesehatan jiwa kita dengan banyak beribadah dan beramal shaleh. Semoga Allah SWT. melindungi kita semua dari berbagai penyakit jiwa, yang virusnya dibawa dan disebarkan oleh Setan. Aamiin




Baca Juga: Iman dan Amal Shaleh  

MAKANAN DAN MINUMAN YANG HALAL DAN BAIK (HALALAN THAYYIBAH)


MAKANAN DAN MINUMAN YANG HALAL DAN BAIK 
(HALALAN THAYYIBAH)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu”
(QS. Al-Baqarah ayat 168 dan 169)..
Islam telah menggariskan bahwa didalam mencari dan mengkonsumsi makanan dan minuman hendaknya yang halal dan baik (halalan thayyibah), baik cara memperolehnya maupun bentuk dan jenis bahannya. Makanan dan minuman yang haram menurut Islam, adalah lantaran tidak saja sifat dan jenis barangnya yang memang haram menurut syariát Islam, seperti daging babi dan berbagai jenis minuman keras, juga lantaran cara memperolehnya yang tidak dibenarkan oleh syariát Islam, seperti barang hasil curian, hasil rampasan, hasil korupsi dan sebagainya.
Dengan konsep halalan thayyibah, Islam telah menawarkan pola makan dan minum yang halal dan baik. Halal dalam arti bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi tersebut halal dari cara memperolehnya dan halal dalam bentuk dan jenis barangnya, juga baik dalam arti barang tersebut harus bersih, sehat dan memenuhi keseimbangan gizi.
Disamping halal dan baik, didalam mengkonsumsi makanan dan minuman, Islam juga telah mengatur sedemikian rupa agar tidak berlebihan, karena Allah SWT. sangat benci terhadap hal-hal yang sifatnya berlebihan. Para ahli kesehatan mengakui bahwa perut yang berisi penuh makanan, dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan peredaran darah. Sedangkan perut yang sering dikosongkan, seperti berpuasa misalnya, banyak sekali faedahnya terhadap kesehatan. Perut yang tidak terlalu penuh dengan makanan akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mempergunakan cadangan-cadangan energy yang tersimpan dan kurang diperlukan karena kelebihan. Misalnya kelebihan lemak, kelebihan zat gula dan sebagainya, bisa dikurangi dengan mengkosongkan perut atau berpuasa. Rasulullah mengingatkan, bahwa kata beliau, “Hampir semua penyakit itu disebabkan oleh persoalan makan dan minum. Apabila seseorang mengurangi makan dan minum, maka perutnya akan dipenuhi nur (cahaya), sehingga dapat mendorongnya untuk berbuat baik/amal shaleh. Ketahuilah perut yang terlalu penuh dapat menimbulkan penyakit malas dan enggan berbuat kebajikan”.

“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-‘Araaf ayat 31).
Manusia dalam menjaga kelangsungan hidupnya memerlukan makanan dan minuman yang terdiri dari binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda lain yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Tetapi tidak semua binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda yang terdapat di bumi ini halal dimakan manusia. Ada yang halal dan ada pula yang haram dimakan. Makanan dan minuman yang diharamkan manusia memakan atau meminumnya itu ada yang ditetapkan dengan Al-Quran, ada yang diterangkan dengan hadist dan ada pula yang ditetapkan berdasarkan ijtihad para ulama.
Makanan yang enak dan lezat belum tentu baik untuk tubuh,dan boleh jadi makanan tersebut berbahaya bagi kesehatan. Selanjutnya makanan yang tidak halal bias mengganggu kesehatan rohani. Daging yang tumbuh dari makanan haram, akan dibakar di hari kiamat dengan api neraka.
Setidaknya ada bebera unsur yang harus diperhatikan dalam kita memilih atau meneliti kehalalan toyyiban sebuah produk yang akan kita konsumsi. PERTAMA adalah kelalalan sutu makanan yang telah dinaskan dalam Al Qur’an. Surat Al Maidaah Ayat 3 yang artinya Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yangdisembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, danyang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkanbagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anakpanah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orangkafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepadamereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnyaAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam kata lan, makanan dan minuman yang diharamkan secara syariat adalah:
1.      Bangkai, yang termasuk kategori bangkai adalah hewan yang mati dengan tidak disembelih termasuk didalamnya hewan yang mati tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas, kecuali yang sempat kita menyembelihnya, hanya bangkai ikan dan belalang saja yang boleh kita makan;
  1. Darah, sering pula diistilahkan dengan darah yang mengalir, maksudnya adalah darah yang keluar pada waktu penyembelihan (mengalir) sedangkan darah yang tersisa setelah penyembelihan yang ada pada daging setelah dibersihkan dibolehkan. Dua macam darah yang dibolehkan yaitu jantung dan limpa;
  2. Babi, apapun yang berasal dari babi hukumnya haram baik darahnya, dagingnya, maupun tulangnya;
  3. Binatang yang ketika disembelih menyebut selain nama Allah
  4. Sedangkan minuman yang diharamkan adalah semua bentuk khamer (minuman beralkohol)
Sedangkan makanan dan minuman yang dihalalkan menurut syariat islam yaitu:
  1. Bukan terdiri dari atau mengandung bagian atau benda dari binatang yang dilarang oleh ajaran Islam untuk memakannya atau yang tidak disembelih menurut ajaran Islam;
  2. Tidak mengandung sesuatu yang digolongkan sebagai najis menurut ajaran Islam.
  3. Dalam proses, menyimpan dan menghidangkan tidak bersentuhan atau berdekatan dengan makanan yang atidak memenuhi persyaratan sebagai mana huruf a, b, c, dan d di atas atau benda yang dihukumkan sebagai najis menurut ajaran Islam
Demikianlah sebagian uraian tentang makanan dan minuman yang halal maupun yang haram, semoga kita semua sebagai seorang muslim senantiasa makan dan minum yang halal sehingga kita bias terhindar dari api neraka. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta menjunjung tinggi sunnah Rasul-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.



Thursday, 22 February 2018

PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM ISLAM


PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM ISLAM



“Barangsiapa sehat badannya, damai di hatinya dan punya makanan untuk sehari-harinya, maka seolah-olah dunia seisinya dianugerahkan kepa-danya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Pengertian sehat badannya dari hadits di atas merupakan cerminan dari sehat jasmani, damai di hatinya, merupakan gambaran dari rohani yang sehat dan punya makanan untuk sehari-harinya, merupakan wujud dari kesejahteraan di bidang sosial atau sehat social. Dari hadits ini dapat kita pahami bahwa yang namanya sehat itu, bukan hanya misalnya seseorang yang terbebas dari berbagai penyakit atau cacat, tetapi arti sehat mengandung pengertian yang sangat luas dan dalam, yakni seseorang yang berada dalam sebuah kondisi yang stabil antara aspek jasmani, rohani, sosial dan lingkungan di mana dia berada. Sehingga wajar kalau Rasulullah mengatakan bahwa seseorang yang benar-benar berada dalam kondisi sehat, maka seolah-olah dunia dan isinya ini adalah miliknya.
Manusia yang sehat adalah manusia yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan penuh daya kemampuan. Dengan kemampuannya itu, ia dapat menumbuhkan dan mengembangkan kualitas hidupnya seoptimal mungkin. Disamping itu, ia memiliki peluang yang lebih luas untuk memfungsikan dirinya sebaik mungkin, terutama dalam aktivitas ibadah dan mu’amalah agar menjadi abdi Allah yang taat dan anggota masyarakat yang bermanfaat bagi sesama.
Islam menganggap bahwa kesehatan termasuk bagian dari nikmat Allah SWT. yang paling besar. Orang yang didera oleh keluhan atau rasa sakit tentu akan merasa kurang nyaman dalam menjalani kehidupan. Belum lagi kalau harus berobat atau ikhtiyar mencari obatnya, tentu orang harus menyiapkan biaya yang tidak bias diduga sebelumnya. Oleh karena itu manusia  harus banyak bersyukur atas nikmat sehat yang didapatnya,  agar pemberian  Allah kepadanya semakin bertambah.
Dalam agama kita diperintah oleh Rasulullah saw. agar berdoa minta dianugerahi dua kesehatan, yakni kesehatan agama dan kesehatan dunia. Beliau SAW. bersabda:

“Mintalah (kalian) kepada Allah keyakinan dan kesehatan, karena tidak ada (nikmat) yang diberikan oleh Allah kepada seseorang yang lebih baik dari pada kesehatan setelah keyakinan” (HR. Ahmad)
Salah   satu   sarana   untuk   memelihara   kesehatan   yaitu   dengan   menjaga kebersihan.  Kitab-kitab  fiqh  kita dalam  babbabnya senantiasa diawali  oleh bab yang   berjudul Thaharah(bersuci).   Di   dalam berwudlumisalnya,dibersihkanlah  bagian-bagian  anggota  tubuh  yang  sering  terkena  kotoran, keringat, debu seperti wajah (termasuk hidung dengan cara istinsyaq/ memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dan mulutdengan cara madhmadhah/ berkumur),  kedua  tangan,  kedua  kaki, kepala  dan kedua telinga. Rasulullah  SAW.  menganjurkan  ummatnya  untuk  mandi,  terutama  pada  hari Jum’at, beliau menganjurkan gosok gigi/ bersiwak, memotong rambut,memotong kuku dan lain-lain.
Tempat-tempat  penting  seperti masjid  dan  sebagainya,haruslah  menjadi contoh  dalam  hal  perhatian  pada  kebersihan  dan  kesehatan  ini.  Kebersihan tempat  mandi,tempat  wudlu/WC,  tempat  sepeda,  tempat  sandal,  tempat sampah, lantai dan lain-lain haruslah menjadi prioritas utama. Tempat mandi dan  wudlu  sedapat  mungkin  dipisahkan  dengan  jamban,  mengingat  jamban merupakan    tempat    najis,    sedangkan    pemeliharaannya  kadang-kadang diabaikan orang.
Demikianlah sebagian dari pandangan Islam tentang bagaimana memelihara kesehatan, semoga menjadi pemacu  dan  pemicu  bagi  kita semua agar tetap peduli terhadap kesehatan diri  kita sendiri, keluarga  kita, jiran tetangga dan seluruh ummat manusia. Semoga Allah SWT. selalu mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua, sehingga kita selalu berada dalam dekapan ridha-Nya. Aamiin

Wednesday, 21 February 2018

PENTINGNYA KELUARGA SAKINAH


PENTINGNYA KELUARGA SAKINAH

Dan   di   antara   tanda-tanda   (kebesaran)-Nya   ialah   Dia   menciptakan pasangan-pasangan  untukmu  dari  jenismu  sendiri,  agar  kamu  cenderung  dan merasa  tenteram  kepadanya,  dan  Dia  menjadikan  di  antaramu  rasa  kasih  dan sayang.  Sungguh  pada yang demikian  itu  benar-benar  terdapat  tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Dari  petikan  ayat tersebut dapat  diuraikan  bahwa  pengertian  keluarga dalam Islam adalah bersatunya dua insan lawan jenis yang bukan mahram, saling melengkapi  satu  sama  lain  secara  lahir  maupun  batin,  sehingga  mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Begitu besar perhatian Allah Swt. terhadap urusan keluarga. Dalam al-Qur’an, tidak kurang Allah menyebut 70 ayat yang secara khusus membahas soal keluarga. Para ulama fiqh, membagi disiplin ilmu fiqh ke dalam 4 (empat) fann atau bagian, yakni fiqh mu’âmalah, jinâyah, munâkahah dan ibâdah. Masuknya masalah-masalah munâkahah (jamak: munâkahât) sebagai seperempat pembahasan fiqh ini, menunjukkan betapa pentingnya eksistensi dan fungsi keluarga dalam kehidupan manusia. Sebab, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat (mujmata’ atau society) yang mempunyai pengaruh besar bagi pembentukan kepribadian setiap anggotanya.
Oleh sebab itu, Islam mengajarkan pentingnya menjadikan keluarga sebagai pusat terciptanya kedamaian, ketentraman, harmoni kehidupan, dan kesejahteraan. Keluarga yang di dalamnya terdapat suasana-suasana seperti itu merupakan keluarga sakinah (sakînah) atau keluarga maslahah (mashlahah). Keluarga sakinah atau maslahah tercipta akibat adanya cinta dan kasih sayang atau yang dalam bahasa al-Qur’an disebut mawaddah wa rahmah. Dalam keluarga semacam ini, ada hubungan yang harmonis antara suami dan istri, antara orang tua dan anak. Di samping itu, semua unsur ataupun anggota keluarga berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing.
Islam memandang bahwa keluarga sakinah, mawaddah, warahmah merupakan fondasi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan diridhai Allah. Contoh ideal keluarga Islami adalah rumah tangga Rasulullah SAW. Rumah tangga beliau harmonis bukan karena faktor kekayaan dan faktor lahiriah lainnya, tetapi lebih karena akhlak, sifat dan karakter mulia  beliau sendiri. Menurut hadits Nabi Muhammad SAW, pilar keluarga sakinah ada empat, yaitu memiliki kecenderungan kepada agama (selalu bertakwa, beribadah, dan mengingat Allah di dalam setiap kegiatannya), anggota yang berumur lebih muda menghormati yang tua dan anggota yang lebih tua menyayangi yang muda, sederhana dalam belanja (tidak boros, tidak menghambur-hamburkan uang, membeli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan), santun dalam bergaul (selalu menjaga hubungan baik dan menaati segala norma kesopanan dengan anggota keluarga maupun dengan orang lain), dan selalu introspeksi diri (tidak takabur, mengakui kesalahan dan tidak mengulanginya, menjadi manusia yang lebih baik lagi kedepannya).

Sebaik-baik  kalian  adalah  yang  terbaik  bagi  keluarganya  dan  aku adalah yang terbaik untuk keluargaku.”(H.R At-Tirmidzi)
Dalam  program  pembinaan  keluarga  sakinah,  kementerian  agama  telah menyusun kriteria-kriteria  umum  keluarga  sakinah  yang  terdiri  dari  keluarga  pranikah,  keluarga  sakinah  I,  keluarga  sakinah  II,  keluarga  sakinah  III  dan  keluarga sakinah plusdan dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan masing-masing kondisi daerah. Uraian masing-masing kriteria sebagai berikut:
  1. Keluarga   pra   sakinah   yaitu   keluarga-keluarga   yang   bukan   dibentukmelalui ketentuan perkawinan yang sah. Tidak dapat memenuhi kebutuhandasar  spiritual  dan  material  secara  minimal,  seperti:  keimanan, sholat, zakat fitrah, puasa, sandang, pangan, papan dan kesehatan 
  2. Keluarga    sakinah I yaitu keluarga-keluarga yang dibangun atas perkawinan yang sah  dan telah dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan material secara minimal tetapi masih belum bisa memenuhi psikologisnya seperti kebutuhan akan pendidikan, bimbingan keagamaan dalam keluarga, mengikuti interaksi sosial keagamaan dalam lingkungannya
  3. Keluarga sakinah II yaitu keluarga yang dibangun atas perkawinan yang sah dan  disamping telah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya juga telah mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta bimbingan keagamaan dalam keluarga serta mampu mengadakan interaksi social dalam lingkungannya, tetapi belum mampu menghayati serta mengembangkan nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan  akhlaqul  karimah, infak, sedekah, zakat, amal jariyah, menabung dan sebagainya 
  4. Keluarga sakinah III yaitu keluarga-keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan   keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, social psikologis dan pengembangan  keluarganya,  tetapi  belum  mampu  menjadi suri tauladan di lingkungannya 
  5. Keluarga sakinah III plus yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan, akhlaqul secara sempurna, kebutuhan sosial  psikologis dan pengembangannya serta dapatmenjadi suri tauladan bagi lingkungannya
Keluarga harmonis menurut prespektif Islam yaitu keluarga yang sakinah, mawaddah,    warahmah. Hal   tersebut   disebabkan   dalam   pernikahan    akan melahirkan ketenangan batin. Laki-laki dan perempuan adalah satu jiwa walaupun ada perbedaan fungsi dan tugasnya, akan tetapi perbedaan ini mengandung makna yang  dalam  yaitu  agar  salah  satu  pihak  merasa  tentram  dan  nyaman  berada  di samping  pasangannya. Selainitu  berfungsisebagai  pengaman,  benteng,  dan penjagaan, pernikahan juga merupakan ladang untuk melanjutkan keturunan yang berkesinambungan sehingga  dapat  menjadi keluarga  yang  tenang,  nyaman  dan aman. Proses  terbentuknya  keluarga  yang  harmonis  tidak  terlepas  dari  evaluasi dari masing-masing pasangan. Dapat berupa perenungan dan pemikiran agar dapat memahami apa yang dilihat dan dirasakan pada pasangan tersebut